Tuesday, August 21, 2007

Laki-laki, Perempuan dan Pernikahan; sudut pandang seorang Novia...

Beberapa waktu yang lalu, saya baru saja mengakhiri hubungan dengan seorang laki-laki. Mengingat umur saya yang sekarang, ngga lucu rasanya kalo masih aja menganut sistem pacaran untuk senang-senang seperti masa SMA. Tapi entah kenapa, sampe sekarang saya selalu menemukan laki-laki dengan cara pikir dan cara pandang yang masih seperti anak SMA. Seperti yang terakhir ini, padahal dari segi umur selisih umur kami lumayan, dan dengan selisih umur yang ada saya mengharapkan sesuatu yang lebih dari cara pikir seorang laki-laki.

Ternyata kaum yang dinamakan laki-laki tidak jauh berbeda dengan kami kaum perempuan. Yang membedakan hanyalah dari segi fisik mereka punya organ reproduksi eksternal, kami kaum perempuan punya organ reproduksi internal.Hanya itu aja, titik!Sementara dari segi cara pikir, cara pandang, perasaan sampai emosi pun tidak berbeda. Haram hukumnya bagi saya untuk menyebutkan laki-laki lebih rasional dan perempuan lebih berperasaan. Semua itu menurut saya tidaklah benar. Semua cara pikir, cara pandang, perasaan dan emosi dibentuk oleh lingkungan tempat kita dibesarkan dan lingkungan tempat kita berada sekarang.


Masalah bahwa agama menyebutkan laki-laki sebagai pemimpin dan kepala keluarga menurut saya agak kurang pas kalo diterapkan mentah-mentah dalam masyarakat. Apalagi tidak melihat kondisi ekonomi dan bagaimana keadaan fisik dan emosi laki-laki yang "diharuskan" oleh agama menjadi pemimpin itu. Untuk itu, coba deh kita pinggirkan dulu apa kata agama dan melihat realitas yang ada. Ayo deh, kita coba untuk menjadi manusia, baik itu laki-laki atau perempuan, yang lebih fleksibel. Jangan karena kita perempuan, maka kita terima nasib sebagai makhluk yang hanya bisa macak, masak, manak. Atau jangan karena kita laki-laki, kita bersikap semau kita dan memanfaatkan kekuatan fisik yang kita miliki.Coba deh, kita mulai memandang pernikahan sebagai lembaga dimana laki-laki dan perempuan bisa saling bekerjasama, bukan yang satu menjadi diktator untuk yang lain.

Laki-laki dan perempuan adalah sama-sama manusia ciptaan Tuhan yang sudah sempurna dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Tidak ada yang lebih superior dari yang lain. Kalau kita bisa menerima diri kita apa adanya, dengan gampang kita bisa diterima oleh orang di masyarakat.
Meskipun saya bukanlah orang yang bisa diterima di masyarakat 100%(I'm still trying to fit in kok), ntar kalo dah selesai baca blog ini, semoga kita bisa menjadi laki-laki atau perempuan yang lebih baik. Yang bisa menerima kenyataan bahwa laki-laki atau perempuan hanya berbeda di letak organ reproduksi saja, sementara sisanya adalah sama. Hanya kadarnya berbeda tergantung dari lingkungan dibesarkan dan lingkungan tempat berada sekarang.

6 comments:

A. Mommo said...

Aku mendukungmu... Bangkitlah! Salam kenal ya.

A. Mommo said...

Hehehehehe :) ketawanya ketinggalan

Gum said...

i'm sorry for what happened to u.
ndak selalu yang kita harapkan bisa terjadi sesuai dengan keinginan kita. well, these things do happen. membuat saya lebih berhati2 untuk bermimpi.

as for the topic,
wanita itu mahluk mandiri dan tangguh, no doubt of it. fenomena kelahiran hanya salah satu contoh yang menjelaskan hal itu. and as far as i know, itu sebabnya wanita diagungkan dalam agama.
to be respected.

dan tentunya akan sangat indah kalau respect itu berjalan 2 arah.

*my perspective*

Gum said...

btw, ada rekomendasi dokter gigi ndak? udah seminggu nih...
T_T

isdah ahmad said...

Ah... kamuh cuman berpendapat di ruang lingkup kamuh sendiri! coba liat the big picture, gag usah jauh" coba liat temen" ce kamuh sekarang. Klo udah, dengan batas margin 4% brapa persen yang seperti pendapat kamuh? hah? Hah? HAH? *berirama*

Sebagai referensi coba nonton pilem "Monalisa Smile".

oh iya, trus jaman sekarang brapa ce yang bisa masak? contoh sayah, bisa ngoding hobi masak :"> kekeke.
..





*ngloyor sambil jalan miring*

idiluam said...

Dalam bangetttzzzz, wah filteringnya harus lebih ketat tuh, biar ngak kecewa sekian kalinya, he he he

*cling, ngilang takut dibalang watu*