Sunday, June 30, 2013

Pergi liburan mendadak itu menyenangkan

Semua berawal dari teman saya, N, yang terpaksa membatalkan liburan kami ke Yogyakarta karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.

Ditengah kegalauan yang ada, E -teman saya yang lain- menyetujui usulan berlibur ke Bali instead of Jogja, dengan budget semi backpacker karena kami berdua ngga punya budget untuk ke Bali

Jadilah pada malam itu juga dia berburu tiket bis, browsing hotel dan sewa mobil di Bali. Dan esok hari nya (H-2) semuanya settled. Baik itu tiket, hotel dan mobil. Jadi hari itu saya berpikir "OMG, I'm really going for a vacation!! I've got to pack!!".

Some of it was my first experience, keep reading and you will know you why.


Untuk menuju ke Bali, kami berangkat dengan menggunakan bis malam. E memesan tiket bis Malang Indah kelas eksekutif. Alasannya karena Malang Indah adalah bis malam tujuan Malang-Denpasar dengan jam keberangkatan paling akhir, yaitu jam 18.00. Dan jam kantor saya berakhir pada jam 17.00. I was lucky karena kantor saya dekat dengan terminal Arjosari. So it won't take long to get there, hanya saya harus memastikan bisa keluar kantor jam 17 teng!

With all the hustle and bustle at work pada hari keberangkatan, saya sukses untuk keluar kantor jam 17.  Motor saya titipkan di salah satu penitipan motor yang berjajar di depan terminal. Ongkos inap motor semalam Rp 2000, jika menitipkan helm juga, kita mesti menambah uang Rp 1000 per malam.

Jam 17.30 saya ketemuan dengan E di dalam terminal dan kami berjalan menuju tempat pemberangkatan bis. It was pretty much as I was expecting. Saya baru pertama kali naik bis umum di terminal. Saya cukup amazed dengan banyaknya pedagang yang masuk ke bis kami dan menawarkan dagangannya.

Oh, berbeda dengan hasil browsing saya tentang Malang Indah, bis kelas Eksekutif hanya menyediakan bantal, tidak ada toilet dan selimut! Thank God I put my jacket on... 

Bis kami berangkat dari terminal Arjosari sekitar pukul 18.30. Kami melewati beberapa titik pamer susu (padat merayap sundul-sundulan, red.) seperti Singosari dan Lawang and I was hungry :( I decided to take some sleep.

Saya terbangun sekitar Kraksaan, a little over Probolinggo. Saya notice beberapa bis (termasuk yang saya tumpangi) sempat berhenti di pinggir jalan dan menaikkan barang ke bagasi. Kernet kemudian menerima sejumlah uang dari si pemilik barang. Sepertinya menerima pengangkutan barang adalah ceperan dari sopir dan kernet bis.

Anyhow, bis kami kemudian berhenti di SPBU paling ciamik se Jawa Timur. Namanya SPBU Utama Raya. Kalau kita ke arah Bali, letaknya tidak jauh setelah PLTU Paiton. Jika saya pergi ke arah timur, saya selalu menyempatkan mampir ke SPBU ini. Fasilitasnya lengkap, seperti toilet yang bersih dan gratis, kecuali untuk toilet VIP yang menyediakan air panas. Selain itu ada hotel, coffee shop, musholla, midi market, ATM dan tentu saja BBM segala jenis :))

Sayangnya, kami tiba di SPBU ini sekitar pukul 10 atau 11 malam, in which sudah melewati jam makan saya. Akhirnya saya putuskan untuk skip nasi soto dan membeli roti serta minuman di midi market instead. Ngga lama, bis kami kemudian berjalan lagi dan saya tidur lagi.

Kami sampai di pelabuhan penyeberangan Ketapang hampir pukul 2 pagi. Keadaan pelabuhan cukup normal, lebih banyak bis dan truk daripada mobil pribadi. Mungkin itu sebabnya kami harus menunggu hingga setengah 3 untuk bisa naik ke ferry.

Saya dan teman saya sudah cukup lama tidak naik ferry, dan I must admit jika ferry yang kami naiki, fasilitas duduk penumpangnya sangat baik. Ngga ada musik kenceng yang memutar lagu dangdut banyuwangi. Untuk toilet, jangan ditanya. sangat-sangat tidak recomended!!!

Ketika tiba di pelabuhan Gilimanuk, kami terjebak di kondisi pamer susu di pintu keluar pelabuhan. Ada proses cek identitas penumpang kendaraan yang akan masuk ke Bali. Berbeda dengan ketika saya naik bis pariwisata, dimana hanya guide nya yang turun ke loket, para penumpang bis umum disarankan turun dan menunjukkan KTP pada petugas di loket yang sudah disediakan. Kenapa disarankan? Karena ternyata ngga turun pun ngga apa-apa. Saya adalah salah satu penumpang yang tidak turun untuk menunjukkan KTP, hehe..

But in my opinion, cara ini tidak efektif karena petugas tidak memeriksa barang bawaan penumpang. Lha ntar kalo misalnya penumpang bawa bahan peledak di bagasi?? Oh well, semoga hal-hal buruk tidak terjadi lagi

Oke, sekitar pukul 4 WIB, kami melanjutkan perjalanan ke terminal Mengwi di daerah Tabanan. Terminal Ubung di Denpasar tidak lagi difungsikan untuk kedatangan bis antar kota antar propinsi. Jadi kami masih harus endure sekitar 3 - 4 jam di jalan.

Kami tiba di Terminal mengwi sekitar pukul 8 WIB dan memutuskan untuk naik sejenis travel untuk pergi ke hotel kami di daerah Kuta. Biaya per orang hanya Rp40,000. Ini lebih murah daripada naik taksi dengan harga Rp.180,000. Hanya saja dengan harga Rp 40,000 itu, kami masih harus menunggu sampai sopir mobil APV bisa mendapatkan penumpang lain.

Setelah melewati jalanan yang macet, akhirnya kami tiba di Jocs Boutique Hotel & Spa di Jalan Melasti - Kuta. Hotel bintang 3 dengan kolam renang kecil di lantai bawah serta Jacuzzi di roof top lantai 5.

Nilai minus hotel ini :
  • Air di kamar mandi susah masuk ke saluran pembuangan
  • Harus mengatur posisi mandi agar air tidak keluar dari kotak mandi
  • Kamar 209 (kamar kami) bocor ketika hujan deras dan ada rembesan air dari jendela
  • Tempat parkir hotel hanya muat 2 mobil

Nilai plus hotel ini :
  • Rooftop Jacuzzi !!!!! (the bubble starts at 10 am - 6 pm)
  • Small but adequate L-shaped swimming pool
  • Very friendly hotel staff
  • Lokasi strategis, dekat pantai, tempat makan dan mall :))

Dengan segala plus minus hotel, jika saya butuh secret hideaway, saya pasti akan kembali ke hotel ini asalkan ada diskon harga dari Agoda :)) The feeling of jacuzzi bubble with overlooking sunset is just breathtaking! Meskipun tidak banyak kegiatan yang saya lakukan di Bali, tapi ambiance yang berbeda dengan Malang sangat bisa membuat saya rileks. I still got the chill of excitement when I look at my picture in the Jacuzzi.

I will come back for another bubble of Jacuzzi, another round of Ayam Betutu and another scoop of Massimo Gelatto.

With all the excitement, tiba juga waktu kami untuk pulang ke Malang. Kami adalah orang-orang yang sudah terbiasa bepergian dengan pesawat dan pengalaman naik bis umum membuat kami encok dan kepala saya juga pusing karena tidak mendapat tidur yang nyaman selama naik bis. Jadi kami putuskan untuk pulang dengan pesawat saja. Dari hasil browsing, hampir semua kursi terisi untuk semua maskapai penerbangan. Hanya tersisa satu jadwal penerbangan citilink dengan harga net Rp.650,000. We took it!

Setelah berjuang antri check in, kami akhirnya bisa terbang dan mendarat dengan selamat di Juanda - Surabaya. Karena tidak ada travel yang menjemput, kami putuskan untuk naik Bis Damri ke terminal Purabaya Surabaya. Tarif nya hanya Rp. 20,000. Bisnya baru dan bersih, serta ada peron terpisah untuk jurusan ke Bandara ketika kami tiba di Terminal Purabaya.

Kemudian untuk jurusan ke Malang, sudah tersedia banyak bis yang bisa dipilih. Mulai bis kelas Ekonomi, Ekonomi AC atau Patas AC. Kami memilih bus Patas AC jurusan Surabaya Malang milik PO Laksana Anda. Sekali lagi, dengan hanya Rp. 23,000 kami mendapatkan bis yang lumayan baru dan bagus.

Sesampainya di Malang, saya turun di parkiran (bilang kalau mau turun di parkiran ke kernetnya ya...) sebelum terminal Arjosari, tepat didepan pintu masuk penitipan sepeda motor saya.

Saya minta tolong petugas untuk mengambil motor dan saya pulang ke rumah dengan ransel yang makin gendut :))

Haaahhhh.... ayo ke Bali lagi!!!

1 comment:

arya said...

Gan Salam Kenal,. Mau Numpang Share neh. Kalau Seandainya Mau Kembali Lagi Berlibur Ke Bali dan Sudah Terencana Pastinya, Perlu Jasa Sewa Mobil Plus Sopir N Bensin Silahkan Kontak Saya di AGP SEWA MOBIL MURAH DI KUTA LEGIAN SEMINYAK BALI Semoga Info Ini Membantu