Monday, March 4, 2013

Letting go is easier said than done

Let it go = relakanlah; lepaskanlah; biarkan ajah

Pernah ngga merasa begitu menginginkan sesuatu atau seseorang so bad until it hurts tapi ternyata ngga kesampaian? Kalau sudah begitu, nasihat yang sering saya dengar adalah Let it go ajah!

Just let it go and let God do the rest, katanya..


Menurut saya, untuk bisa mengikhlaskan sesuatu dan benar-benar membiarkan tangan Tuhan yang bekerja adalah hal yang sulit dilakukan. Atau itu mungkin karena saya masih perlu memperbaiki hubungan saya dengan Tuhan, entahlah..

By experience, deep down I believe bahwa jika sesuatu (atau seseorang) memang digariskan/dijodohkan untuk kita, maka tidak ada yang bisa menghalangi untuk sesuatu atau seseorang itu menjadi milik kita.

Salah satu contoh yang bisa saya berikan adalah tentang pekerjaan. Beberapa kali saya mencoba melamar pekerjaan yang saya inginkan tapi selalu gagal. Diawal saya memang mempertanyakan, apa yang salah dengan saya. Apa rencana Tuhan untuk saya?  Tapi dengan berjalannya waktu, saya seperti tersadar dan bisa menyadari apa yang terjadi seandainya saya benar-benar diterima bekerja di perusahaan tersebut.

Contoh lain adalah tentang pasangan. Saya tidak pernah menyesali kegagalan saya untuk menikah, dan itupun semakin dikuatkan oleh kejadian that follows after that. Calon saya akhirnya pindah keluar kota untuk pursue his passion. Even more, dia bahkan traveling ke beberapa negara. Sounds great kan? But for me, it doesn't.

Coba bayangkan apa yang terjadi ketika saya jadi menikah, dan dia meninggalkan saya di Malang untuk pursue his passion di luar kota atau bahkan ke luar negeri. Sementara saya disini juga pasti akan pursue mine as well. Jika kami mempunyai anak, I don't think my child would even had time to communicate with the father karena kepergiannya yang tidak terjadwal.

I may be socially disabled but that's not the kind of family that I want to build. 

Tetapi karena saya hanyalah manusia, ada beberapa hal yang tidak bisa dengan mudah kita let go. Ada beberapa hal yang masih kita pertanyakan kenapa hal yang kita inginkan tidak berjalan sesuai rencana atau keinginan.

Selalu ada trigger yang mengingatkan hal yang tidak ingin kita ingat. When this happen, letting go is such a hard thing to do. It's like having something that pull me back to square one. I want to move on, but there's always an invisible string that keeps me in place. I really hate it!

It will continue to be like that until the final answer appears by itself. That's when the ray of light shines through your brain and your soul. Finally, the Aha Moment arrives!! Everything becomes clear, all questions are answered.

Yang membuat saya tersiksa adalah periode antara kejadian tidak seperti yang saya inginkan hingga Aha moment. Lama periode tersebut sangat bervariasi, bisa dalam waktu dekat seperti kejadian dengan mantan calon suami saya, bisa juga dalam waktu lama seperti urusan melamar pekerjaan.

Yang lebih eneg lagi adalah mengetahui (dengan jelas sejelas-jelasnya) bahwa hal yang saya inginkan adalah hal yang tidak baik, tetapi somehow somewhere selalu diberikan trigger untuk mengingat kembali hal tersebut hanya karena hal itu masih saya hadapi almost everyday. Itu semakin membuat susah untuk let go. Saya percaya Tuhan sedang bekerja dengan cara yang tidak saya pahami, but I can't help to expect the result faster.

Tapi kalau bukan berpikiran positif, maka itu bukan saya. Saya menyadari bahwa sulit untuk let go, tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Someday, I will let it go!



No comments: